Bentuk Organisasi

Gema Perdamaian merupakan organisasi sosial yang berlandaskan gotong royong. Awal terbentuknya pada tahun 2003 setelah terjadi bencana kemanusiaan Bom Bali 1 di Legian. Beberapa orang inisiator mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat dengan tujuan perdamaian terkait dengan kejadian kemanusiaan yang terjadi karena isu sara dan kebencian terhadap kelompok tertentu. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan apabila tidak segera ditangani secara serius oleh semua pihak yang berkepentingan terhadap perdamaian. Kemudian banyak orang merasa terpanggil untuk ikut bergabung sebagai ambasador perdamaian melaui kegiatan-kegiatan sosial yang diadakan untuk menggugah kesadaran masyarakat untuk hidup damai ditengah perbedaan yang ada.

Semakin lama semakin bertambah banyak yang ikut bergabung secara sukarela baik perorangan maupun secara berkelompok dari seluruh lapisan masyarakat. Termasuk dari kalangan pemerintah juga ikut mendukung kegiatan-kegiatan perdamaian ini. Saat ini sudah lebih dari 50 organisasi yang tergabung dan ribuan masyarakat yang semakin sadar menjadi duta perdamaian. Sehingga Gema Perdamaian ini merupakan gabungan organisasi-organisasi swasta dan pemerintah serta masyarakat umum yang terbentuk atas dasar kesadaran berkumpul, bergotong royong bersama-sama mencipatakan dan memelihara perdamaian. Dalam setiap kegiatan kami membentuk diri sebagai OC (Organizing Commitee) dalam kepantiaan yang terus berganti setiap tahun. Struktur kepanitiaan yang sudah pernah duduk di kepantiaan sebelumnya menghimpun diri dalam SC (Steering Commitee) sehingga ada team pengarah yang berkomitmen meregenerasi kegiatan yang sangat mulia ini.

Organisasi Gema Perdamaian kini sudah terdaftar di Pemerintahan dan sudah berbentuk badan hukum

YAYASAN GEMA PERDAMAIAN

  • Berkedudukan dan berkantor pusat di Jalan Raya Dalung Nomor 88 A, Kelurahan / Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Propinsi Bali
  • Akte Pendirian: Yayasan Gema Perdamaian
  • Tanggal: 10 November 2018
  • Nomor: 4
  • Terdaftar di Kesbangpol Propinsi Bali dengan nomor: 220/ 2258 /BID. II/BKBP. TAHUN 2018
  • NPWP: 90.219.773.0-906.000

KOMUNITAS GEMA PERDAMAIAN

  • Berkedudukan di Lingkungan Wisma Nusa Permai Blok D Nomor 14 Benoa, Kelurahan/Desa Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung
  • Akte Pendirian: Perkumpulan Komunitas Gema Perdamaian
  • Tanggal: 06 Oktober 2018
  • Nomor: 5
  • Terdaftar di Kesbangpol Propinsi Bali dengan nomor: 3/POLITIK/IV/2019
  • NPWP: 90.203.944.5-905.000

Latar Belakang

Gema Perdamaian adalah gerakan partisipatif anak bangsa untuk mengingatkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya damai. Kita sepakat damai bisa diperoleh dengan hidup rukun, harmonis saling menghormati dan toleransi dengan sesama manusia, alam dan segala isinya. Gerakan murni akan perdamaian ini didorong oleh berbagai peristiwa pahit misalnya peristiwa kemanusiaan yg brutal seperti bom Bali 1, bom Bali 2 dll. Anak bangsa yang peduli bersama-sama menyingsingkan lengan bajunya bergerak mengupayakan gerakan Perdamaian ini demi kepentingan hidup yang lebih baik.

Kita sepakat bahwa damai adalah panggung peradaban hakiki kita semua; apapun agama, suku, ras dan adat istiadatnya. Sejalan dengan berkembangnya dinamika masyarakat didunia, semakin dirasakan bahwa dibutuhkan pemahaman dan kesadaran akan damai yg lebih meluas. Oleh karena itu gerakan damai dirasa cukup sentris di Bali namun harus meluas ke Indonesia dan dunia.

Oleh krn itu perlu Re-Branding untuk mendasari penguatan pemaknaan dan narasi gerakan Gema Perdamaian yg universal.

Logo dan Maknanya

1. Manifestasi Keragaman

Warna logo yang warna – warni sebagai simbol keragaman sebagai fakta kehidupan di dunia. Adalah fakta alami dimana warna –mejikuhibiniu- merupakan manifestasi dari spektrum warna hasil penguraian sinar. Ini melambangkan bahwa keberagaman hidup itu berasal dari asal yang sumber yang satu yaitu Maha Cahaya.

Ini melambangkan bahwa keberagaman hidup itu berasal dari asal yang sumber yang satu yaitu Maha Cahaya.

2. Perjalanan Menuju ke Kemuliaan Hidup

Jumlah 6 kelopak merupakan simbol bahwa angka 6 sebelum 7 (tujuan) yang memberikan arti bahwa 6 elemen sebagai dasar yang utuh dan lengkap sebelum menentukan dan menuju ke tujuan (7).

Mengingatkan bahwa dibutuhkan 6 elemen sebelum menuju tujuan yang sejati. 5 kelopak bentuknya sama, sebagai simbol dari 5 elemen dasar pembentuk kehidupan (Panca Mahabhuta, five elements, Pancasila dan juga simbol jumlah 5 indria. Kemudian kelopak ke 6, berarti elemen indra ke 6 yg merupakan unsur spiritual manusia yang harus melengkapi elemen dasar 5. Warna Kuning keemasan pada kelopak ke 6 berarti eksistensi kesucian jiwa dalam diri setiap manusia yang direfleksikan menjadi sikap mulia yang didasari Budi Pekerti.

3. Pengobaran Semangat Kemuliaan Berlandaskan Akal Budi

Semangat kemuliaan harus senantiasa dikobarkan sebagaimana warna kuning keemasan dibentuk seperti nyala api. Dengan dasar kemuliaan budi, maka kekuatan mental dan akal akan sangat berguna untuk dasar intelektualitas hidup. Tanpa budi atau kalau punya hanya akal saja, maka hidup akan beresiko tanpa arah dan kedamaian sulit dicapai.


4. Semangat Bangsa

Dasar Merah Putih pada kewilayahan dari peta dunia itu melambangkan eksistensi universal. Selain itu Merah Putih adalah warna identitas keberadaan bangsa kita dan simbol perjuangan Negara Republik Indonesia sehingga anak bangsa senantiasa ingat akan jati dirinya karena dia adalah bendera Bang-Sa. Bangsa = (Sekumpulan manusia dengan semangat dengan daya kreatif ( beraksara -Bang- ) membangun bersama menuju kemuliaan dan kesucian ( beraksara -Sa- ).


ketakwaan5. Ketakwaan Kepada Tuhan yang Maha Esa

Simbol bintang di bawah semangat kemuliaan yang berkobar itu adalah sebagai wujud bahwa semua gerakan kemuliaan berlandaskan dan berdasarkan hanya pada Ketuhanan Yang Maha Esa bukan yang lain.

Visi dan Misi

Visi :

Terwujudnya kesadaran masyarakat untuk hidup damai melalui kegiatan sosial yang berlandaskan gotong royong.

Misi:

  1. Menjadikan kegiatan Gema Perdamaian sebagai wahana edukasi masyarakat sehingga terbentuk mindset damai, mengenal perbedaan sebagai fakta alam nyata yang tak terbantahkan dan dapat hidup saling menghormati dan menghargai di masyarakat.
  1. Menjadikan Gema Perdamaian sebagai acara tahunan yang tidak akan pernah berakhir masanya dan dijadikan sebagai peringatan hari raya suci perdamaian seluruh umat beragama serta aliran kepercayaan yang ada.
  1. Menjadikan Gema Perdamaian sebagai ikon Bali dan Indonesia untuk dapat lebih dikenal di seluruh dunia sehingga dapat memberikan inspirasi kepada dunia. Sebagaimana manusia senantiasa mengupayakan dan mengingatkan dirinya untuk menjaga hening dan kedamaian hatinya sebagai dasar sikap dan perbuatannya.
  1. Menggaungkan doa dan vibrasi hening perdamaian yang dilakukan bersama dengan semua agama dan aliran kepercayaan yang ada. Sehingga mengisi alam cosmic dan menyebar ke seluruh Bali, Indonesia kemudian ke seluruh alam semesta.
  1. Menjadikan kegiatan Gema Perdamaian ini sebagai tempat berkumpul dan menyatunya anak bangsa untuk menjalankan panggilan nuraninya tanpa terbedakan oleh agama/kepercayaan yang dianutnya, suku, adat – istiadat, warna primordial, status atau ragam/mosaik cara pandang lainnya.

Acara ini diharapkan dapat dilaksanakan di provinsi lain pada tanggal dan waktu yang sama sehingga diharapkan dampak gaung dan Gema Perdamaian bisa lebih membesar. Kendatipun dilakukan tidak pada hari yang sama, hendaknya ada relevansi dengan situasi setempat, sepanjang nilai dasarnya adalah perdamaian. Kita tahu dan semakin yakin bahwa perdamaian itu harus diperjuangkan, bukan jatuh dari langit.

Agenda Acara Gema Perdamaian

Acara dimulai dari setiap tgl 21 September yang merupakan hari Perdamaian Dunia yang telah ditentukan oleh PBB. Dimulai dengan acara Sarasehan di lokasi Gong Perdamaian, Kertalangu – Kesiman, Denpasar. Selanjutnya diisi dengan acara-acara sosialisasi dan edukasi damai kepada banyak segmen sampai puncak acara yaitu hari H. Yang dimaksud hari H adalah hari Sabtu yang terdekat sebelum tanggal 12 Oktober setiap tahun. Agenda secara detail disiapkan terpisah. **

Puncak acara dilaksanakan di Monumen Bajra Sandhi lapangan Renon yang dimulai pukul 16.45 – 20.00 WITA. Melibatkan pimpinan pemerintahan pusat, provinsi, kota dan kabupaten di Bali, para suci, pendeta, biksu, ulama, tokoh – tokoh masyarakat dari berbagai golongan dan agama, konsul – konsul negara sahabat, masyarakat aktivis semua agama, Dewan Pasraman, seniman, budayawan, pelajar, mahasiwa, ormas dan masyarakat lainnya baik lokal maupun international yang biasanya berjumlah ribuan orang. Acara dimulai dengan eksebisi keberagaman kepengajaran atau praksis beragama/aliran kepercayaan, yoga, padayatra, sambutan gubernur, doa bersama dan hiburan.

Struktur Organisasi Gema Perdamaian

Dewan Pembina:

Ida Rsi Acharya Waisnawa Agni Budha Wisesanatha, Ida Rsi Bujangga Waisanawa Hari Anom Palguna, Ida Rsi Bhagawan Smerthi Kusuma Wijaya Sebali, Ida Bhagawan Yogananda, Ir. Anak Agung Putu Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc., Ph.D., Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Indonesia : Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet, Ketua Forum Silahturahmi Keraton Nusantara-Bali: A.A. G.A.B. Sutedja, Ketua Forum Komunikasi Etnis Nusantara: A.A Ngurah Bagus, Ketua Yayasan Eling Nusantara: Muliana Guntur, Ketua Gong Perdamaian Kertalangu : Suardhana W Linggih. Putu Agus Antara, Dr. Gusti Kade Sutawa, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, Pandita Sudiartha Indrajaya, H. Deden Saefulloh, Jro Jemiwi.

ketut-darmika

Ir. I Ketut Darmika

Ketua Yayasan Gema Perdamaian

kadek-adnyana

I Kadek Adnyana

Sekretaris Yayasan Gema Perdamaian

jik mul

Drs. Ngurah Agung Mulyaharta

Bendahara Yayasan Gema Perdamaian

i-kadek-adnyana

I Kadek Adnyana

Ketua Perkumpulan Gema Perdamaian

Ir. Nyoman Merta

Ir. I Nyoman Mertha Harnaga

Sekretaris Komunitas Gema Perdamaian

wahyu

Gusti Ngurah Wahyu Diatmika

Bendahara Komunitas Gema Perdamaian

Dalam setiap kegiatan organisasi membentuk panitia khusus yang melibatkan seluruh anggota komunitas secara bergantian lintas agama, suku dan ras.