Gema Perdamaian

Gema Perdamaian adalah sebuah gerakan untuk menyadarkan manusia betapa pentingnya hidup rukun dan harmonis dengan sesama manusia, alam dan segala isinya. Gerakan perdamaian ini didorong oleh hati nurani untuk peduli terhadap situasi perjalanan peradaban baik yang berupa sejarah maupun yang terjadi belakangan ini di seluruh dunia khususnya di Indonesia dengan adanya berbagai hentakan bencana kemanusiaan sejak tahun 2002. Keberbedaan yang merupakan fakta hidup, baik beda karena agama, ras, suku dan beda lainnya bukanlah bahan dan panggung untuk melakukan pertentangan, perkelahian, perselisihan dan lain sebagainya yang seolah anti damai.

Kehidupan terasa sesak dengan tiadanya damai yang melandasi. Dimana-mana penuh dengan pertentangan, perpecahan, kebencian, perkelahian di hampir semua lini atau segmen kehidupan bermasyarakat, terlebih peperangan juga masih dianggap sebagai langkah yang cepat, praktis serta merta mudah diputuskan. Demokratisasi yang kita harapkan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat namun saat ini masih berada pada tataran euphoria dan yang mengemuka justru perseteruan yang tiada habisnya antar kelompok masyarakat.

Sangatlah terasa bahwa peradaban saat ini berjalan didominasi oleh ego yang dibenarkan oleh arogansi rasionalitas dalam segala wujud ciptanya. Manakala kita hening dan berusaha mendamaikan diri, hati nurani dengan halus dan penuh kasih membisikkan bahwa bukan ini yang sebenarnya yang ingin kita ciptakan dan yang ingin kita cari. Peradaban yang tanpa damai akan percuma. Damai adalah dasar yang paling mendasar. Dengan damai hidup lebih bermanfaat dan hidup terasa lebih indah.

Untuk itu acara Gema Perdamaian rutin diadakan setiap tahun sebagai pengingat, menjadi tonggak penyegar upaya perdamaian yang diupayakan dan dirindukan semua pihak. Acara peringatan ini diselenggarakan pada Hari Sabtu terdekat sebelum tanggal 12 Oktober yang merupakan simbol bahwa kita harus senantiasa melakukan tindakan preventif serta eling lan waspada. Lalu menjaga rasa eling tersebut senantiasa, sebagai bentuk kesadaran antisipatif jikalau kita ingin memelihara keadaan damai yang kondusif.

Beberapa anak bangsa dari beberapa kalangan (sekarang duduk pada steering committee) lalu menyediakan dirinya untuk menginisiasi dan ngayah karena keterpanggilan hati mereka.

Media Partners
deteksipost
Majalah Craddha
bali travel news
Metro Bali
Koran Juri
Suluh Bali News
Stake Holders
Pemkot Denpasar
Komunitas Paras Paros
BPPD Badung
Pelindo III
PHRI Bali
Sanggraha Pinandita Nusantara
Kegiatan